KUDUS - Meningkat dari bulan sebelumnya, Kudus mengalami inflasi pada bulan November sebesar 0,24 persen dengan Index Harga Konsumen (IHK) sebesar 144,82. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala BPS Kudus Rahmadi Agus Santosa di Aula Kantor BPS, Selasa (3/12).
Rahmadi memaparkan bahwa dari 7 kelompok pengeluaran, kelompok bahan makanan menyumbang andil cukup besar dalam inflasi bulan November. Sedangkan beberapa kelompok mengalami deflasi. "Pada inflasi bulan November dari 7 kelompok pengeluaran, kelompok bahan makanan menyumbang inflasi yang cukup besar bila dibandingkan kelompok lain", ucapnya.
Komoditi penyumbang utama inflasi pada bulan November adalah naiknya harga/tarif bawang merah, jeruk, telur ayam ras, tomat sayur, dan bayam. Sedangkan komoditas utama yang mengalami deflasi adalah cabai rawit, pisang, besi beton, batu bata, dan nangka muda. Sementara itu, inflasi Kota Kudus terjadi karena kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok umum sebesar 0,24 persen; kelompok bahan makanan sebesar 1,04 persen; kelompok perumahan sebesar -0,02 persen; kelompok sandang sebesar -0,12 persen; kelompok kesehatan sebesar -0,02 persen; sedangkan pada kelompok makanan jadi, kelompok pendidikan dan transportasi relatif stabil.
Pada enam kota Survei Biaya Hidup (SBH) Jawa Tengah, seluruh kota di Jawa Tengah mengalami inflasi. Kabupaten Kudus mengalami inflasi sebesar 0,24 dengan IHK sebesar 144,82; kemudian diikuti oleh Kota Surakarta sebesar 0,23 dengan IHK 132,46; Kota Semarang sebesar 0,20 dengan IHK 135,97; Kota Tegal sebesar 0,20 dengan IHK 134,22; Kota Cilacap sebesar 0,16 dengan IHK 140,05; dan Kota Purwokerto sebesar 0,15 dengan IHK 134,20.