KUDUS - Salah satu tantangan yang dihadapi petani yakni alih fungsi lahan. Penjabat Bupati Kudus Bergas Catursasi Penanggungan mengungkapkan peningkatan penduduk menyebabkan makin tingginya kawasan pemukiman dan menurunnya lahan pertanian. Menurutnya, hal ini perlu adanya pendekatan teknologi.
"Tantangan yang dihadapi petani ini salah satunya berkurangnya lahan. Solusinya, ya harus menerapkan berbagai teknologi tani," paparnya usai membuka Diseminasi Hasil Sensus Pertanian (ST2023) Tahap 1 di Hotel HOM, Selasa (12/12).
Pj. Bupati menjelaskan terdapat teknologi pertanian yang telah dikembangkan. Namun, masih banyak masyarakat yang bertani dengan metode tradisional. Jika ingin berkembang, kebiasaan lama perlu diubah. Terlebih, bertani dengan pendekatan teknologi jauh lebih efektif.
"Harapannya pakai teknologi, bertani jadi lebih efektif dan hasilnya jauh lebih maksimal. Bayangkan misal membajak sawahnya sudah modern, atau bisa diremote dari rumah, itu kan jauh lebih efektif," imbuhnya.
Lebih lanjut, apresiasi disampaikan Bergas terkait data Sensus Pertanian. Data potret pertanian Kabupaten Kudus itu sangat penting, terutama dalam memutuskan kebijakan strategis ke depan. Pihaknya meminta BPS Kabupaten Kudus terus berupaya menyajikan data valid dan terpercaya.
"Data gambaran pertanian ini penting ya sebagai informasi kondisi sebenarnya di Kabupaten Kudus," paparnya.
Sementara itu, Kepala BPS Kudus Eko Suharto menuturkan pendataan lapangan telah dilakukan sejak Juni-Juli 2023. Pihaknya menjelaskan usaha pertanian mengalami tren penurunan secara nasional.
"Memang kalau dibandingkan data 2013, usaha pertanian mengalami tren penurunan," tuturnya.
Meskipun begitu, Eko menuturkan pendekatan teknologi bisa jadi solusi untuk berbagai tantangan. Seperti yang dilakukan oleh petani milenial yang membawa berbagai terobosan.
"Kami menghadirkan petani milenial sebagai inspirator bagaimana usaha pertanian dibarengi dengan teknologi," pungkasnya. (*)